Sentra Produksi Cemilan Kembang Goyang di Jakarta Selatan - Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal kembang goyang. Jajanan tradisional berbentuk bunga ini banyak ditemui di berbagai kota di pulau Jawa. Saat Lebaran, camilan tradisional itu kerap menjadi suguhan wajib bersamaan dengan kue kering.
Sentra Produksi Cemilan Kembang Goyang di Jakarta Selatan - Sebagian besar masyarakat Indonesia pasti mengenal kembang goyang. Jajanan tradisional berbentuk bunga ini banyak ditemui di berbagai kota di pulau Jawa. Saat Lebaran, camilan tradisional itu kerap menjadi suguhan wajib bersamaan dengan kue kering.
Sama dengan jajanan tradisional lainnya, popularitas kembang goyang kalah dengan camilan kekinian. Tapi siapa sangka, dengan mengandalkan penjualan makanan bertekstur renyah itu bisa meningkatkan taraf hidup sekelompok kecil warga ibukota di salah satu pinggiran wilayah Jakarta Selatan, dengan mendirikan Kampung Kembang Goyang.
Kampung ini terletak di blok proposal, Jalan Raya Lenteng Agung, RT 13/ RW 7, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kampung tersebut berdiri pada 2012 setelah ada program dari dinas sosial setempat bernama Kelompok Usaha Bersama (Kube).
"Program ini awalnya untuk masyarakat miskin," jelas Ahmad Junaedi, pelopor Kampung Kembang Goyang saat ditemui KONTAN di rumahnya, Selasa (9/4).
Pria yang akrab disapa Jun ini pada awalnya tidak memiliki keahlian membuat kembang goyang. Namun ia kepincut melihat sang isteri yang kerap menerima pesanan kue kering jelang Lebaran tiba. Akhirnya ia langsung punya gagasan untuk membuat kembang goyang. "Saat itu, kembang goyang masih jarang dan modalnya paling murah dibandingkan kue kering lainnya," tuturnya.
Mulanya, produksi kembang goyang hanya terpusat di rumah Junaedi. Ia dibantu empat orang tetangga dan keluarga adik iparnya saat awal membuka usaha kembang goyang. Seiring berjalannya waktu, empat tetangga yang semula membuat kembang goyang di rumah Jun mulai memproduksi kembang goyang di rumahnya masing-masing.
Langkah tersebut dilakukan untuk bisa mempersingkat waktu pembuatan. Sebelum membuat, para tetangga diberi resep kembang goyang. "Istri saya juga mengajari sampai bisa. Hingga akhirnya mereka bisa membuat sendiri dan mulai berjualan," ucapnya.
Salah satu murid, Nurhayati sudah mengikuti jejak Junaedi sejak empat tahun lalu. Ia mengaku awalnya membuat kembang goyang di rumah Junaedi karena keterbatasan peralatan dan modal. Saat itu, modal awal usaha cuma Rp 100.000 untuk membeli bahan tepung, telur, dan minyak. Adapun peralatan masih pinjam Junaedi. "Setelah sekitar dua bulan berjalan, saya mulai mencicil membeli peralatan dari uang yang terkumpul," ungkapnya.
Kini, sudah ada sekitar 15 orang di sekitar blok proposal, Lenteng Agung yang memproduksi kembang goyang. Uniknya, para perajin kembang goyang sudah punya kesepakatan soal harga jual makanan tersebut. Yakni untuk satu bungkus kembang goyang berisi 24 buah mereka membanderol Rp 15.000–Rp 20.000 di tingkat perajin.
Produksi camilan kembang goyang di kampung ini, dilakukan di rumah warga. "Masih istirahat, mulai bikin lagi setelah waktu Ashar, sekitar jam 3 sore," kata Ahmad Junaedi, atau yang akrab disapa Jun, pelopor Kampung Kembang Goyang kepada KONTAN.
Jun sendiri menyewa sebuah rumah kosong yang ia jadikan sebagai tempat produksi. Ia menceritakan, tiap perajin punya waktu produksi masing-masing. Biasanya para perajin membuat kue berbentuk kembang tersebut di sela-sela kegiatan sehari-hari. Semisal sehabis melakukan tugas sebagai tukang cuci, atau sambil mengurus anak. "Intinya saat ada waktu luang baru bisa memproduksi kembang goyang," ucapnya.
Bapak dua anak ini mulai membuat kembang goyang pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB dan dia lanjutkan kembali sore hari sekitar pukul 15.00 WIB.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan bahan baku sekitar 5 kilogram (kg). Satu kilogram bahan baku biasanya menghasilkan sekitar 7 bungkus sampai 8 bungkus. Satu bungkus berisi 24 keping kembang goyang.
Dengan kata lain, Junaedi bisa menghasilkan antara 820 keping sampai 960 keping kembang goyang sehari.
Lain halnya dengan Nurhayati, perajin kembang goyang yang juga tetangga dekat Junaedi. Dalam sehari ia hanya mampu menghabiskan minimal 2 kg bahan baku atau sekitar 300-an keping kembang goyang. Keterbatasan peralatan dan tenaga membuat perempuan ini hanya sanggup memproduksi kembang goyang dalam kapasitas tersebut.
Selain keterbatasan peralatan, memproduksi kembang goyang ternyata lumayan sulit. Karena ada beberapa tahap pembuatan serta memperhatikan panas kompor. "Membuat kembang goyang lumayan susah, harus ada skill," tuturnya.
Perempuan yang akrab disapa Nur ini mengatakan dalam mengolah 1 kg bahan baku menjadi kembang goyang, ia membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sama seperti Junaedi, ia juga membagi waktu kerja menjadi dua kloter, yaitu saat pagi hari dan sore hari.
"Sehari-hari saya ibu rumah tangga biasa. Bikin kembang goyang kalau urusan rumah udah selesai. Lumayan buat tambahan pemasukan bulanan," katanya.
Kampung Kembang Goyang Lenteng Agung juga menerima pesanan kembang goyang dari berbagai daerah. Jika Anda berminat untuk memesan dalam jumlah besar, disarankan memesan mulai seminggu atau maksimal dua hari sebelumnya. Pasalnya, belum tentu setiap hari ada stok atau pasokan kembang goyang yang tersisa.***
----
Apabila anda membutuhkan aneka alat kuliner untuk mendukung usaha anda seperti penggorengan, kompor, dll silahkan hubungi alat-kuliner.blogspot.com
Sumber Informasi dan foto : Kontan
Sama dengan jajanan tradisional lainnya, popularitas kembang goyang kalah dengan camilan kekinian. Tapi siapa sangka, dengan mengandalkan penjualan makanan bertekstur renyah itu bisa meningkatkan taraf hidup sekelompok kecil warga ibukota di salah satu pinggiran wilayah Jakarta Selatan, dengan mendirikan Kampung Kembang Goyang.
Kampung ini terletak di blok proposal, Jalan Raya Lenteng Agung, RT 13/ RW 7, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kampung tersebut berdiri pada 2012 setelah ada program dari dinas sosial setempat bernama Kelompok Usaha Bersama (Kube).
"Program ini awalnya untuk masyarakat miskin," jelas Ahmad Junaedi, pelopor Kampung Kembang Goyang saat ditemui KONTAN di rumahnya, Selasa (9/4).
Pria yang akrab disapa Jun ini pada awalnya tidak memiliki keahlian membuat kembang goyang. Namun ia kepincut melihat sang isteri yang kerap menerima pesanan kue kering jelang Lebaran tiba. Akhirnya ia langsung punya gagasan untuk membuat kembang goyang. "Saat itu, kembang goyang masih jarang dan modalnya paling murah dibandingkan kue kering lainnya," tuturnya.
Mulanya, produksi kembang goyang hanya terpusat di rumah Junaedi. Ia dibantu empat orang tetangga dan keluarga adik iparnya saat awal membuka usaha kembang goyang. Seiring berjalannya waktu, empat tetangga yang semula membuat kembang goyang di rumah Jun mulai memproduksi kembang goyang di rumahnya masing-masing.
Langkah tersebut dilakukan untuk bisa mempersingkat waktu pembuatan. Sebelum membuat, para tetangga diberi resep kembang goyang. "Istri saya juga mengajari sampai bisa. Hingga akhirnya mereka bisa membuat sendiri dan mulai berjualan," ucapnya.
Salah satu murid, Nurhayati sudah mengikuti jejak Junaedi sejak empat tahun lalu. Ia mengaku awalnya membuat kembang goyang di rumah Junaedi karena keterbatasan peralatan dan modal. Saat itu, modal awal usaha cuma Rp 100.000 untuk membeli bahan tepung, telur, dan minyak. Adapun peralatan masih pinjam Junaedi. "Setelah sekitar dua bulan berjalan, saya mulai mencicil membeli peralatan dari uang yang terkumpul," ungkapnya.
Kini, sudah ada sekitar 15 orang di sekitar blok proposal, Lenteng Agung yang memproduksi kembang goyang. Uniknya, para perajin kembang goyang sudah punya kesepakatan soal harga jual makanan tersebut. Yakni untuk satu bungkus kembang goyang berisi 24 buah mereka membanderol Rp 15.000–Rp 20.000 di tingkat perajin.
Produksi camilan kembang goyang di kampung ini, dilakukan di rumah warga. "Masih istirahat, mulai bikin lagi setelah waktu Ashar, sekitar jam 3 sore," kata Ahmad Junaedi, atau yang akrab disapa Jun, pelopor Kampung Kembang Goyang kepada KONTAN.
Jun sendiri menyewa sebuah rumah kosong yang ia jadikan sebagai tempat produksi. Ia menceritakan, tiap perajin punya waktu produksi masing-masing. Biasanya para perajin membuat kue berbentuk kembang tersebut di sela-sela kegiatan sehari-hari. Semisal sehabis melakukan tugas sebagai tukang cuci, atau sambil mengurus anak. "Intinya saat ada waktu luang baru bisa memproduksi kembang goyang," ucapnya.
Bapak dua anak ini mulai membuat kembang goyang pada pagi hari sekitar pukul 09.00 WIB dan dia lanjutkan kembali sore hari sekitar pukul 15.00 WIB.
Dalam sehari, ia bisa menghabiskan bahan baku sekitar 5 kilogram (kg). Satu kilogram bahan baku biasanya menghasilkan sekitar 7 bungkus sampai 8 bungkus. Satu bungkus berisi 24 keping kembang goyang.
Dengan kata lain, Junaedi bisa menghasilkan antara 820 keping sampai 960 keping kembang goyang sehari.
Lain halnya dengan Nurhayati, perajin kembang goyang yang juga tetangga dekat Junaedi. Dalam sehari ia hanya mampu menghabiskan minimal 2 kg bahan baku atau sekitar 300-an keping kembang goyang. Keterbatasan peralatan dan tenaga membuat perempuan ini hanya sanggup memproduksi kembang goyang dalam kapasitas tersebut.
Selain keterbatasan peralatan, memproduksi kembang goyang ternyata lumayan sulit. Karena ada beberapa tahap pembuatan serta memperhatikan panas kompor. "Membuat kembang goyang lumayan susah, harus ada skill," tuturnya.
Perempuan yang akrab disapa Nur ini mengatakan dalam mengolah 1 kg bahan baku menjadi kembang goyang, ia membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Sama seperti Junaedi, ia juga membagi waktu kerja menjadi dua kloter, yaitu saat pagi hari dan sore hari.
"Sehari-hari saya ibu rumah tangga biasa. Bikin kembang goyang kalau urusan rumah udah selesai. Lumayan buat tambahan pemasukan bulanan," katanya.
Kampung Kembang Goyang Lenteng Agung juga menerima pesanan kembang goyang dari berbagai daerah. Jika Anda berminat untuk memesan dalam jumlah besar, disarankan memesan mulai seminggu atau maksimal dua hari sebelumnya. Pasalnya, belum tentu setiap hari ada stok atau pasokan kembang goyang yang tersisa.***
----
Apabila anda membutuhkan aneka alat kuliner untuk mendukung usaha anda seperti penggorengan, kompor, dll silahkan hubungi alat-kuliner.blogspot.com
Sumber Informasi dan foto : Kontan

